Jumat, 30 Desember 2011

Malam Pujangga (sedang dan setelahnya)

Ini malam, malam pujangga

Ruang hampa penuh gerak udara,
meraba kulit selayak sutra
Malam ini ia berhembus dari utara
Membawa rindu berlentera

Malam ini segera berlanjut,

Matapun belum kena urut,
menyangkal kantuk mulai mengerucut
Ini diam bukan karena nyali ciut
Tapi ada masalah dalam perut

Malam ini pun akhirnya hangus,

Tak peduli pagi telah tembus
dan melemparnya putus
Ia terbang menuju kemukus
Menegaskan bahwa ini sebuah siklus

Esok ini pagi dan malam pun sudah berlari

Terkekang diam membela diri
Terjerumus pada jurang beralas duri
Kini lawan sudah berganti saudara tiri
Menunjuk jalan ke arah kiri

Lantaran pagi belum memberi janji

Bunga layu terabai mati
Langit cerah tak berarti mengerti
Oh pagi merusak pagi
Lagi-lagi hilang tanpa surat dititipi

Ini belum terdengar terang.

Mabuk kepayang menanti siang,
Menanti nektar berubah matang.
Biar belang merangkul pulang,
Memikul batu penuh ilalang

Tidak ada komentar:

Jumat, 30 Desember 2011

Malam Pujangga (sedang dan setelahnya)

Ini malam, malam pujangga

Ruang hampa penuh gerak udara,
meraba kulit selayak sutra
Malam ini ia berhembus dari utara
Membawa rindu berlentera

Malam ini segera berlanjut,

Matapun belum kena urut,
menyangkal kantuk mulai mengerucut
Ini diam bukan karena nyali ciut
Tapi ada masalah dalam perut

Malam ini pun akhirnya hangus,

Tak peduli pagi telah tembus
dan melemparnya putus
Ia terbang menuju kemukus
Menegaskan bahwa ini sebuah siklus

Esok ini pagi dan malam pun sudah berlari

Terkekang diam membela diri
Terjerumus pada jurang beralas duri
Kini lawan sudah berganti saudara tiri
Menunjuk jalan ke arah kiri

Lantaran pagi belum memberi janji

Bunga layu terabai mati
Langit cerah tak berarti mengerti
Oh pagi merusak pagi
Lagi-lagi hilang tanpa surat dititipi

Ini belum terdengar terang.

Mabuk kepayang menanti siang,
Menanti nektar berubah matang.
Biar belang merangkul pulang,
Memikul batu penuh ilalang

Tidak ada komentar: