Sabtu, 02 Januari 2010

Penikmat Malam



Senandung Lara

Ketika mata ini sayup
Bias-bias kaca dimakan redup
Saat telinga ini perih
Suara kucing terjepit tak dapat dilirih
Kadang tubuh ini lemas
Mengejar bentuk berwarna emas
Kala otak ini bermimpi
Tiada hati yang miliki tepi
Dimana tangan ini menaruh
Sayap-sayap lisan akan rapuh
Serentak kaki ini turun
Hingga hidup tak lagi beralun
Mengerang punggung ini sakit
Tertimpa sauh berbukit-bukit
Kemudian jari-jari ini lumpuh
Karena hati ini telah melepuh
151107

Tertutup mataku

Lumpur menghampiriku
Melekat erat menempel di mataku
Aku silau…
Aku gelap…
Berlian didepan mataku tak bisa kunikmati
Hampa bisa kuraba setiap jengkalnya
Aku menyesal…
Mengapa kubasahi tanah kuburan itu
Hingga muncrat membasahi jendela hidupku
Aku malu…
Rupaku ini kecut-kecut semu
Bau busuk menusuk pangkal hidungku

271107

Mendung tiba

Dahan pohon mengepak urung
Burung-burung terbang murung
Menyambut kekarnya mendung
Si langit ternoda tinta hitam
Menuggu tangisan ayam
Yang kena tarian hujan
Sedang si semut merenung
Rumah tanah indahnya
Jadi abu terantuk ciprat hujan
Sementara sang surya
Menekan bayu dengan cahaya
Tapi sia-sia
Sebab mendung sudah lelap
Berakar di dinding dunia

271107

Minta satu

Lepas tawaku sesak
Meski sekitarku berteriak
Ajak diriku bernafas
Setidaknya hanya aku yang tak tahu
Dimana matahari terbit tenggelam
Di bumi yang renta ini
Ada satu semangat di ujung duka
Yang perlu aku terima
Karena semua takdir Maha Kuasa
Tanpa ujaran…
Tangan ini sendiri menengadah
Meminta satu di antara dua dunia
Yang senpurna milik mereka

291107

Ketika Hampa

Kurasa aku menyepi
Menyandang kaku tubuh
Ku minta aku mencari
Menelusuri batas kabut
Merasa kehilangan…
Aku disini menyambut
Sang gundah menyelimuti riang
Kadang mata ini melamun
Menanti setiap kata yang kembali
Yang dulu aku ucapkan pada alam

291107



Kata Rahasia

Semburan erangan kesakitan
Menggerogoti nafas
Memenangkan setiap hela
Hanya satu hela yang masih tersimpan
Sebuah pena emas yang kosong
Aku berfikir
Bertanya
Menyela
Menyahut
Menangkap
Hingga mengejar
Tanpa satu di tangan …
Hanya percikan asa
Yang ku kandung dalam hina
Tanpa bisa ku bisiki
Dua kata rahasiaku

301108

Aku Sakit Jiwa

Menepi di ujung tepi sepi
Merantai gelisah pagi buta
Aku adalah mendung diri
Yang terlelap tanpa muka
Yang telah robek di hari raya
Dan tak terlalu bisa ku mengerti
Sirat surat hujat untukku
Yang katanya berisi cara
Untuk menggulung angin gunung pagi ini
Selama aku menewaskan diri
Sakti cemeti menikmati punggungku
Punggung yang selalu aku lindungi
Dari iblis pemberi najis
Tubuhku hanya diam
Karena sayatannya terlalu dalam
Kini aku baru mengaku
Aku sakit jiwa…
011207


Coba Berdiri

Selama ku coba berdiri
Selama itu juga ku bosan
Mengatur tulang – tulang busuk
Di kakiku ini
amarah yang bergerigi pedang
menggoyahkan tumpuan terjal
segala macam warna darah
hitam
hijau
kuning
cokelat
memenuhi bau tulang
yang ku jadikan tombak
untuk mencengkram bunyi
dari bumi yang tua

041207

Senandung Senja

Senja ini meredup
Mata sang mentari pun telah mengantuk
Ingin tidur iringi senandung langit
Perlahan diam…
Kaki sang ayam melenggang pelan
Menuju perebahan kandang
Sementara itu…
Anak capung terbang ling-lung
Mencari dimana sarangnya terbawa gelap
Tiada suara..
Hanya anak kecil yang merengek pelan
Bersembunyi di balik tumpukan bambu
Ia menahan isak
Karena bunga yang disukainya pergi
Dibawa teman sendiri
Tak ada yang mengusik kegundahannya
Hingga sang ayam bangun dari tidurnya
Hingga si capung menentukan sarangnya
120607


Kata dan Kita

Semacam kata…
Tak sampai nyata
Terkadang kata
Dimakan dusta
arena mata
Tak cuma kita
Yang patuh pada cita
Cita pada sebuah cipta
Di mana kehendak merata
Di situ kita meminta
Kemana satu kata
Tak semua bisa nyata
Karena kata
Sungguh karena dusta
Disaat mata
Tak cuma melihat kita
Yang menanti cita
Yang akan tercipta
Meski sanubari tak merata
Saat meminta
Itulah kata…
Dan kita….
241007



Tanya Pengemis

Satu tanya seorang pengemis
Meminta sekerik uang
Tiada jawab akan melasnya
Penasaran darinya buat aku iba
Ia menangis tapi tak di mata
Ia menjerit tapi tak di mulut
Di mana dia merangkak
Tiada yang tahu
Akupun hanya bisa menebak
Kemana ia akan bunuh diri
Masihkah ada uang untukku ?
Ia tanya tanpa pandang
Tidakkah kau melihat aku?
Ia tanya pada satu orang di depannya
Terserah….
Jawab orang tak berhati itu

081207

Bunga Terbawa Angin

Mungkin sama waktu
Saat aku mengejar
Satu bunga yang terbawa angin
Ku tak ingin lagi ketinggalan
Kemana arah angin menentu
Ku tak ingin ulangi
Saat aku tersungkur
Jatuh, menggerutu
"mengapa ia tega?"
Sekarang bunga itu kalut
Warnanya pun agak kusam
Dan tak mungkin untuk ku sentuh

081207

Senyum Sedikit

Ku cari teka-tekiku
Ku rasa tiada hafal tentangku
Tlah ku cacah
Tlah ku pecah
Tapi tak berdarah
Lekukanku akan ku pahami
Hingga benciku berseri
Namun semua menjari
Tanpa hampa ku sadari
Ku rasa aku hanya berputar
Di roda tiada dasar
Dan tak pernah aku melirik
Mungkin hanya sedetik
Aku di sini tergelitik

071206

Pilu

Nadiku beku
Kala ku tatap matamu
Seiring bulan berlagu
Aku merasa pilu
Kini mentari telah berlari
Aku akan kembali
Kemasa yang berganti
Aku akan mati
Di belakang peti
Yang berbau melati
Tapi ku akan mati
Di atas kayu kursi
Dengan bidak berdiri
Dan hati yang berlega suci

080906

Belum Siap

Kelapa jangan lagi jatuh
Jauhilah kepalaku
Pundakku pun jangan
Sebab perutku belum siap
Kakiku pun pendek
Tak usah kau incar
Jariku pun membesar
Tak usah kau hajar
Lupakan tubuhku
Cari yang lain
Yang lebih tegak berdiri

180706

Prajurit dan Asanya

Di mana aku…
Saat prajurit menjerit
Aku di dalamnya
Menurunkan genggaman senjata
Menekuk sebagian lututnya
Membela diri menempatkan hati
Menikmati hidup untuk bertahan
Di belahan jiwa yang rawan
Prajurit ini punya senyum sedikit
Merangkap pasrah
Untuk menanti
Para algojo mengulitinya
Mati…
Prajurit ini telah mati
Tanpa rasa yang ia ingini
Yakni sendiri dengan asanya

010307

Sabana Pengembara

Sang pengembara…
Tunggu aku…
Kita pergi bersama ke sabana damai itu
Sejenak tak terhitung
Ku sampai di hamparan damai
Sabana terindah untuk seorang yang hina
Di sana pengembara mengajariku
Berpejam di akar pohon
Menngigit jerami kering
Melompat bersama hewan pengerat
Dan menangkap angina bersama capung
Tenang ku rasakan
Saat berbaring di atas rumput
Di bawah sang mega putih yang megah
Dikelilingi kupu-kupu yang menari
Sayang hanya sebentar
Sang pengembara pulang
Sebab bekalnya hilang ku makan

050907

Bincang Malam

Kemana arah bayu mengayuh?
Saat katak beriring untuk tidur
Kata cicak kecil yang suntuk
Sementara malam menunduk
Mencurahkan rasa rindu pada siang
Katakan pada bintang
Panggilkan siangku saat petang
Kegundahan bulan menumpuk
Berkehendak menyajikan cahaya
Tapi para penghuni malam membisu
Tak mengangguk
Tak menggeleng
Jangkrik pun masih lumpuh
Sayap kecilnya tak mau bernyanyi
Hingga para tokek mencari makanannya

241007

Tak Hanya Aku

Lirik gita pujangga mengenal sesalku
Aku mengintip deru-deru
Sepah syair lagumu
Alun kalbu nurani
Bertelanjang dada di depanku
Sombong besarkan kepalanya
Seolah hanya setengah menyentuhku
Ancaman dawai dosa
Mengalahkan kekarnya aral melintang
Yang akan mengaduh kesakitan
Saat sanubari mati
Tak hanya aku
Diriku pun menodakan abu
Ketika sampah hati akan terkoyak api

091207

Golak Pantai

Lambai kaki tangan daun kelapa
Menyambut sapaan
nyanyian ombak
Semalam,
saat anak penyu menangisi induknya
Si kerang merangkak pelan
menuju bibir biru
Sedang si udang
pergi mengoyak makanan di bawah sampan
Semuanya tak bisa di terka si keong
Si keong hanya nyengir
Menertawakakan kata si kerang
Yang tak bisa mengayuh kakinya
Untuk terbang
mengimbangi singgasana garis bumi
121207

Kecil Arti

Bangsal lentera tirai kehidupanku
Menggelepak kecil menuju buih
Menggertak, dimana aku bersandar
Semasa tuak-tuak bernoda
Memabukkan para anak bajingan
Aku hanya mengunyah kerikil tajam
Yang baru saja menggeser pangkal lidahku
Aku tak punya arti
Cuma makna orang awam
Yang tunduk padaku
Cuma desir sunyi kicau
Yang beri tahu ku melangkah
Tak secepat kilat melaju
Kataku
Ucapku
Untuk birukan mukaku

301207

Keruh

Bukan batu yang ingin ku tuai
Salah arti tak sampai ku nanti
Begitu kata ingin hati
Separuh detik menggapai
Merengkuh keluh di urut waktu
Sepenuh jauh ku merangkai
Di dinding nyeri aku kembali
Sesal hanya di ujungku
Kapan aku bisa menggerutu
Kapan dia akan tersipu
Dan berkata
Aku akan menuju pundakmu
Bukti akan ku jadi
Di hari minggu nanti

311207

Aku sekarat

Sekat bulan berganti
Hujan tak niat turun
Tiada berseri untuk sesuatu yang baru
Karena malam ini telah selesai
Memalukan diriku
Hanya ada hati yang mengecil
Saat aurora berganti
Hanya ada tubuh kerdil
Dicekik air mata di diri
Sempit rasanya berdiri
Kecut rasa di lisan
Pegal rasa di badan
Terasa gurih dinikmati perih cinta
Sekarang aku sekarat…

020108

Anggap

Ku anggap aku sampah
Tak ada tempatku menengadah
Ku anggap kau pencerah
Ternyata hanya bercak merah
Kau anggap aku apa
Sebuah benda berpura-pura
Kau anggap aku tuak
Mabuk berguling tak bergerak
Sampai kini pemuja api menunduk
Kau dan aku tak ada anggapannya
Sebab ia tak dengar
Tawa gerigi yang menggerusku
Selama ini penari hanya berdiri
tiada tahu gerak-gerik dinanti

160108

Simpul malam

Angin tak bukakan simpul malam
Tak henti menghardik tebar hujan
Aku menanti jejak semut tergilas air
Yang turun dari sela-sela jamur kering
Tak jua aku lihat
Serumpun hijau kata-kata embun
Yang teduh mengguyurkan damai
Aku hanya nikmati
Kerdil tangan ini merengkuh
Memeluk bulan berlinangkan hujan
Aku hanya diam
Meminjamkan lidah pada terpa sunyi
Biar ia temani
Kecut hati ini di makan kutu

180108

Penikmat Malam

Ketika kelam menundukan surya
Yang lelah di garis tabirnya
Kapankah langkah rembulan menyelinap
Di sela-sela tirai sepi
Hingga akan muncul
Binar-binar penyejuk hati sang penikmat malam
Ketika mata sayup pedih
Rasakan debu yang sengaja menusuk
Kapankah percik embun meresap teduh
Ciptakan gelora asa
Tuk menatap hati di diri seorang perasa
Ketika keluh tetesan hujan
Menambang dingin di tepi malam
Kapankah serat-serat sepotong selimut
Menutupi tipisnya sulaman ari
Di diri seorang penyair

180208

Penikmat Sepi

Aku sendiri…
Tapi ada yang menemani
Aku pergi…
Ia mengikuti
Aku behenti…
Ia masih di sisi
Tak cukup hati
Untuk bilang pergi
Aku sendiri..
Mereka menghampiri
Aku pergi..
Mereka menghalangi
Aku berhenti…
Mereka ikuti
Tak kuasa hati
Untuk bilang sampai di sini
Aku mengerti…
Aku harus berhenti
Berkata malam pada dini hari
Berkaca kelam di tembok bui
Karna masih mengalir di diri
Jiwa-jiwa penikmat sepi

150308


Uh… maut

Oh…
Musuh
Acuh
Rusuh
Keruh
Kalut
Maut
Balut
Perut
kecut
redam
geram
pendam
dendam
padam
ah….
250308

Tamat

Gelagak meramu su…
kadang melempar ba…
tuliskan sejarah ma…
lambaikan kidung ke…
salahkan aku ji…
kalau aku diam bang…
kita serukan mati ka…
dang kala ka…
lut..
Bungkam masih te…
patuh berada di…
ampunan siluman ma…
tamat sampai di..
sini,,,

150508

Ini Dia…
Musim musim
Sekarang sedang diam
Apa mungkin ?
Ini dia…
Untukku…
Bingung lagi…
Tepatny apa ?
Musim ini lagi kah….
Sudahlah…
Ini dia…
Satu lagi untukku…
Tapi aku jua bingung
Akhirnya ini dia?
Musim semi sepi

270508

Malaikat di diri

Peras tuas sendi –sendi
Keras puas hasrat di diri
Menyalami malaikat pembawa mati
Dekat lekat bertali
Sekat berat tirani
Menanyakakan kemana malaikat pergi
Terpa bisik hampa
Puspa tilik gerrhana
Menjawab pelan kearah sana
Bisu malaikat menjadi
Ia diam pungkiri diri
Dan kemudian, beranjak takhluk sendiri
120608

Saat Ini

Si Jarum meninggi menatap dua belas
melalui tawa detik-detik kecil
sebuah cerita lama masih dibaca
Sepertinya para pendengar sibuk
menggeram….
mencerca,
sambil duduk mengulangi kata di cerita
sementara sang pencerita
telah menutup buku ceritanya
sebab jenuh menunggu kalimat penuh


PLSI 07

1 komentar:

[◣_◢] Yoni Akhmad | mengatakan...

Mbok puisini dipisah2 wae....................

Sabtu, 02 Januari 2010

Penikmat Malam



Senandung Lara

Ketika mata ini sayup
Bias-bias kaca dimakan redup
Saat telinga ini perih
Suara kucing terjepit tak dapat dilirih
Kadang tubuh ini lemas
Mengejar bentuk berwarna emas
Kala otak ini bermimpi
Tiada hati yang miliki tepi
Dimana tangan ini menaruh
Sayap-sayap lisan akan rapuh
Serentak kaki ini turun
Hingga hidup tak lagi beralun
Mengerang punggung ini sakit
Tertimpa sauh berbukit-bukit
Kemudian jari-jari ini lumpuh
Karena hati ini telah melepuh
151107

Tertutup mataku

Lumpur menghampiriku
Melekat erat menempel di mataku
Aku silau…
Aku gelap…
Berlian didepan mataku tak bisa kunikmati
Hampa bisa kuraba setiap jengkalnya
Aku menyesal…
Mengapa kubasahi tanah kuburan itu
Hingga muncrat membasahi jendela hidupku
Aku malu…
Rupaku ini kecut-kecut semu
Bau busuk menusuk pangkal hidungku

271107

Mendung tiba

Dahan pohon mengepak urung
Burung-burung terbang murung
Menyambut kekarnya mendung
Si langit ternoda tinta hitam
Menuggu tangisan ayam
Yang kena tarian hujan
Sedang si semut merenung
Rumah tanah indahnya
Jadi abu terantuk ciprat hujan
Sementara sang surya
Menekan bayu dengan cahaya
Tapi sia-sia
Sebab mendung sudah lelap
Berakar di dinding dunia

271107

Minta satu

Lepas tawaku sesak
Meski sekitarku berteriak
Ajak diriku bernafas
Setidaknya hanya aku yang tak tahu
Dimana matahari terbit tenggelam
Di bumi yang renta ini
Ada satu semangat di ujung duka
Yang perlu aku terima
Karena semua takdir Maha Kuasa
Tanpa ujaran…
Tangan ini sendiri menengadah
Meminta satu di antara dua dunia
Yang senpurna milik mereka

291107

Ketika Hampa

Kurasa aku menyepi
Menyandang kaku tubuh
Ku minta aku mencari
Menelusuri batas kabut
Merasa kehilangan…
Aku disini menyambut
Sang gundah menyelimuti riang
Kadang mata ini melamun
Menanti setiap kata yang kembali
Yang dulu aku ucapkan pada alam

291107



Kata Rahasia

Semburan erangan kesakitan
Menggerogoti nafas
Memenangkan setiap hela
Hanya satu hela yang masih tersimpan
Sebuah pena emas yang kosong
Aku berfikir
Bertanya
Menyela
Menyahut
Menangkap
Hingga mengejar
Tanpa satu di tangan …
Hanya percikan asa
Yang ku kandung dalam hina
Tanpa bisa ku bisiki
Dua kata rahasiaku

301108

Aku Sakit Jiwa

Menepi di ujung tepi sepi
Merantai gelisah pagi buta
Aku adalah mendung diri
Yang terlelap tanpa muka
Yang telah robek di hari raya
Dan tak terlalu bisa ku mengerti
Sirat surat hujat untukku
Yang katanya berisi cara
Untuk menggulung angin gunung pagi ini
Selama aku menewaskan diri
Sakti cemeti menikmati punggungku
Punggung yang selalu aku lindungi
Dari iblis pemberi najis
Tubuhku hanya diam
Karena sayatannya terlalu dalam
Kini aku baru mengaku
Aku sakit jiwa…
011207


Coba Berdiri

Selama ku coba berdiri
Selama itu juga ku bosan
Mengatur tulang – tulang busuk
Di kakiku ini
amarah yang bergerigi pedang
menggoyahkan tumpuan terjal
segala macam warna darah
hitam
hijau
kuning
cokelat
memenuhi bau tulang
yang ku jadikan tombak
untuk mencengkram bunyi
dari bumi yang tua

041207

Senandung Senja

Senja ini meredup
Mata sang mentari pun telah mengantuk
Ingin tidur iringi senandung langit
Perlahan diam…
Kaki sang ayam melenggang pelan
Menuju perebahan kandang
Sementara itu…
Anak capung terbang ling-lung
Mencari dimana sarangnya terbawa gelap
Tiada suara..
Hanya anak kecil yang merengek pelan
Bersembunyi di balik tumpukan bambu
Ia menahan isak
Karena bunga yang disukainya pergi
Dibawa teman sendiri
Tak ada yang mengusik kegundahannya
Hingga sang ayam bangun dari tidurnya
Hingga si capung menentukan sarangnya
120607


Kata dan Kita

Semacam kata…
Tak sampai nyata
Terkadang kata
Dimakan dusta
arena mata
Tak cuma kita
Yang patuh pada cita
Cita pada sebuah cipta
Di mana kehendak merata
Di situ kita meminta
Kemana satu kata
Tak semua bisa nyata
Karena kata
Sungguh karena dusta
Disaat mata
Tak cuma melihat kita
Yang menanti cita
Yang akan tercipta
Meski sanubari tak merata
Saat meminta
Itulah kata…
Dan kita….
241007



Tanya Pengemis

Satu tanya seorang pengemis
Meminta sekerik uang
Tiada jawab akan melasnya
Penasaran darinya buat aku iba
Ia menangis tapi tak di mata
Ia menjerit tapi tak di mulut
Di mana dia merangkak
Tiada yang tahu
Akupun hanya bisa menebak
Kemana ia akan bunuh diri
Masihkah ada uang untukku ?
Ia tanya tanpa pandang
Tidakkah kau melihat aku?
Ia tanya pada satu orang di depannya
Terserah….
Jawab orang tak berhati itu

081207

Bunga Terbawa Angin

Mungkin sama waktu
Saat aku mengejar
Satu bunga yang terbawa angin
Ku tak ingin lagi ketinggalan
Kemana arah angin menentu
Ku tak ingin ulangi
Saat aku tersungkur
Jatuh, menggerutu
"mengapa ia tega?"
Sekarang bunga itu kalut
Warnanya pun agak kusam
Dan tak mungkin untuk ku sentuh

081207

Senyum Sedikit

Ku cari teka-tekiku
Ku rasa tiada hafal tentangku
Tlah ku cacah
Tlah ku pecah
Tapi tak berdarah
Lekukanku akan ku pahami
Hingga benciku berseri
Namun semua menjari
Tanpa hampa ku sadari
Ku rasa aku hanya berputar
Di roda tiada dasar
Dan tak pernah aku melirik
Mungkin hanya sedetik
Aku di sini tergelitik

071206

Pilu

Nadiku beku
Kala ku tatap matamu
Seiring bulan berlagu
Aku merasa pilu
Kini mentari telah berlari
Aku akan kembali
Kemasa yang berganti
Aku akan mati
Di belakang peti
Yang berbau melati
Tapi ku akan mati
Di atas kayu kursi
Dengan bidak berdiri
Dan hati yang berlega suci

080906

Belum Siap

Kelapa jangan lagi jatuh
Jauhilah kepalaku
Pundakku pun jangan
Sebab perutku belum siap
Kakiku pun pendek
Tak usah kau incar
Jariku pun membesar
Tak usah kau hajar
Lupakan tubuhku
Cari yang lain
Yang lebih tegak berdiri

180706

Prajurit dan Asanya

Di mana aku…
Saat prajurit menjerit
Aku di dalamnya
Menurunkan genggaman senjata
Menekuk sebagian lututnya
Membela diri menempatkan hati
Menikmati hidup untuk bertahan
Di belahan jiwa yang rawan
Prajurit ini punya senyum sedikit
Merangkap pasrah
Untuk menanti
Para algojo mengulitinya
Mati…
Prajurit ini telah mati
Tanpa rasa yang ia ingini
Yakni sendiri dengan asanya

010307

Sabana Pengembara

Sang pengembara…
Tunggu aku…
Kita pergi bersama ke sabana damai itu
Sejenak tak terhitung
Ku sampai di hamparan damai
Sabana terindah untuk seorang yang hina
Di sana pengembara mengajariku
Berpejam di akar pohon
Menngigit jerami kering
Melompat bersama hewan pengerat
Dan menangkap angina bersama capung
Tenang ku rasakan
Saat berbaring di atas rumput
Di bawah sang mega putih yang megah
Dikelilingi kupu-kupu yang menari
Sayang hanya sebentar
Sang pengembara pulang
Sebab bekalnya hilang ku makan

050907

Bincang Malam

Kemana arah bayu mengayuh?
Saat katak beriring untuk tidur
Kata cicak kecil yang suntuk
Sementara malam menunduk
Mencurahkan rasa rindu pada siang
Katakan pada bintang
Panggilkan siangku saat petang
Kegundahan bulan menumpuk
Berkehendak menyajikan cahaya
Tapi para penghuni malam membisu
Tak mengangguk
Tak menggeleng
Jangkrik pun masih lumpuh
Sayap kecilnya tak mau bernyanyi
Hingga para tokek mencari makanannya

241007

Tak Hanya Aku

Lirik gita pujangga mengenal sesalku
Aku mengintip deru-deru
Sepah syair lagumu
Alun kalbu nurani
Bertelanjang dada di depanku
Sombong besarkan kepalanya
Seolah hanya setengah menyentuhku
Ancaman dawai dosa
Mengalahkan kekarnya aral melintang
Yang akan mengaduh kesakitan
Saat sanubari mati
Tak hanya aku
Diriku pun menodakan abu
Ketika sampah hati akan terkoyak api

091207

Golak Pantai

Lambai kaki tangan daun kelapa
Menyambut sapaan
nyanyian ombak
Semalam,
saat anak penyu menangisi induknya
Si kerang merangkak pelan
menuju bibir biru
Sedang si udang
pergi mengoyak makanan di bawah sampan
Semuanya tak bisa di terka si keong
Si keong hanya nyengir
Menertawakakan kata si kerang
Yang tak bisa mengayuh kakinya
Untuk terbang
mengimbangi singgasana garis bumi
121207

Kecil Arti

Bangsal lentera tirai kehidupanku
Menggelepak kecil menuju buih
Menggertak, dimana aku bersandar
Semasa tuak-tuak bernoda
Memabukkan para anak bajingan
Aku hanya mengunyah kerikil tajam
Yang baru saja menggeser pangkal lidahku
Aku tak punya arti
Cuma makna orang awam
Yang tunduk padaku
Cuma desir sunyi kicau
Yang beri tahu ku melangkah
Tak secepat kilat melaju
Kataku
Ucapku
Untuk birukan mukaku

301207

Keruh

Bukan batu yang ingin ku tuai
Salah arti tak sampai ku nanti
Begitu kata ingin hati
Separuh detik menggapai
Merengkuh keluh di urut waktu
Sepenuh jauh ku merangkai
Di dinding nyeri aku kembali
Sesal hanya di ujungku
Kapan aku bisa menggerutu
Kapan dia akan tersipu
Dan berkata
Aku akan menuju pundakmu
Bukti akan ku jadi
Di hari minggu nanti

311207

Aku sekarat

Sekat bulan berganti
Hujan tak niat turun
Tiada berseri untuk sesuatu yang baru
Karena malam ini telah selesai
Memalukan diriku
Hanya ada hati yang mengecil
Saat aurora berganti
Hanya ada tubuh kerdil
Dicekik air mata di diri
Sempit rasanya berdiri
Kecut rasa di lisan
Pegal rasa di badan
Terasa gurih dinikmati perih cinta
Sekarang aku sekarat…

020108

Anggap

Ku anggap aku sampah
Tak ada tempatku menengadah
Ku anggap kau pencerah
Ternyata hanya bercak merah
Kau anggap aku apa
Sebuah benda berpura-pura
Kau anggap aku tuak
Mabuk berguling tak bergerak
Sampai kini pemuja api menunduk
Kau dan aku tak ada anggapannya
Sebab ia tak dengar
Tawa gerigi yang menggerusku
Selama ini penari hanya berdiri
tiada tahu gerak-gerik dinanti

160108

Simpul malam

Angin tak bukakan simpul malam
Tak henti menghardik tebar hujan
Aku menanti jejak semut tergilas air
Yang turun dari sela-sela jamur kering
Tak jua aku lihat
Serumpun hijau kata-kata embun
Yang teduh mengguyurkan damai
Aku hanya nikmati
Kerdil tangan ini merengkuh
Memeluk bulan berlinangkan hujan
Aku hanya diam
Meminjamkan lidah pada terpa sunyi
Biar ia temani
Kecut hati ini di makan kutu

180108

Penikmat Malam

Ketika kelam menundukan surya
Yang lelah di garis tabirnya
Kapankah langkah rembulan menyelinap
Di sela-sela tirai sepi
Hingga akan muncul
Binar-binar penyejuk hati sang penikmat malam
Ketika mata sayup pedih
Rasakan debu yang sengaja menusuk
Kapankah percik embun meresap teduh
Ciptakan gelora asa
Tuk menatap hati di diri seorang perasa
Ketika keluh tetesan hujan
Menambang dingin di tepi malam
Kapankah serat-serat sepotong selimut
Menutupi tipisnya sulaman ari
Di diri seorang penyair

180208

Penikmat Sepi

Aku sendiri…
Tapi ada yang menemani
Aku pergi…
Ia mengikuti
Aku behenti…
Ia masih di sisi
Tak cukup hati
Untuk bilang pergi
Aku sendiri..
Mereka menghampiri
Aku pergi..
Mereka menghalangi
Aku berhenti…
Mereka ikuti
Tak kuasa hati
Untuk bilang sampai di sini
Aku mengerti…
Aku harus berhenti
Berkata malam pada dini hari
Berkaca kelam di tembok bui
Karna masih mengalir di diri
Jiwa-jiwa penikmat sepi

150308


Uh… maut

Oh…
Musuh
Acuh
Rusuh
Keruh
Kalut
Maut
Balut
Perut
kecut
redam
geram
pendam
dendam
padam
ah….
250308

Tamat

Gelagak meramu su…
kadang melempar ba…
tuliskan sejarah ma…
lambaikan kidung ke…
salahkan aku ji…
kalau aku diam bang…
kita serukan mati ka…
dang kala ka…
lut..
Bungkam masih te…
patuh berada di…
ampunan siluman ma…
tamat sampai di..
sini,,,

150508

Ini Dia…
Musim musim
Sekarang sedang diam
Apa mungkin ?
Ini dia…
Untukku…
Bingung lagi…
Tepatny apa ?
Musim ini lagi kah….
Sudahlah…
Ini dia…
Satu lagi untukku…
Tapi aku jua bingung
Akhirnya ini dia?
Musim semi sepi

270508

Malaikat di diri

Peras tuas sendi –sendi
Keras puas hasrat di diri
Menyalami malaikat pembawa mati
Dekat lekat bertali
Sekat berat tirani
Menanyakakan kemana malaikat pergi
Terpa bisik hampa
Puspa tilik gerrhana
Menjawab pelan kearah sana
Bisu malaikat menjadi
Ia diam pungkiri diri
Dan kemudian, beranjak takhluk sendiri
120608

Saat Ini

Si Jarum meninggi menatap dua belas
melalui tawa detik-detik kecil
sebuah cerita lama masih dibaca
Sepertinya para pendengar sibuk
menggeram….
mencerca,
sambil duduk mengulangi kata di cerita
sementara sang pencerita
telah menutup buku ceritanya
sebab jenuh menunggu kalimat penuh


PLSI 07

1 komentar:

[◣_◢] Yoni Akhmad | mengatakan...

Mbok puisini dipisah2 wae....................